“Kutukan” Orang Tua Yang Menjadi Kenyataan

Pada setiap kasus terapi yang saya lakukan, pada akhirnya memang memberikan banyak pemahaman, kaidah dan manfaat yang sangat luar biasa bagi kehidupan pribadi saya dan keluarga. Juga memperkaya pemahaman pada setiap training, motivasi dan coach yang saya tangani. Termasuk juga saat menangani kasus beberapa waktu lalu yang melibatkan hubungan dan komunikasi dari orang tua pada anaknya. Bila ditanyakan kepada seluruh orang tua di muka bumi ini, saya yakin 1000% bahwa setiap orang tua menghendaki anak-anak mereka tumbuh dan menjadi anak yang baik, berhasil, sukses, bahagia dan sederetan hal-hal baik lainnya. Benar bukan?

Dan nyatanya setiap manusia yang terlahir di dunia ini memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Namun pengaruh terbesar dalam mencapai kesuksesan tersebut justru berawal dari apa yang dilakukan, diberikan dan “ditanamkan” oleh para orang tua kepada anak-anaknya saat mereka masih kecil. Namun kebanyakan orang tua tidak menyadari tindakannya tersebut dapat memberikan dampak yang luar biasa pada perjalanan hidup anaknya di kemudian hari. Meskipun semuanya itu dilakukan dari kacamata “demi kebaikan sang anak” pada masa tersebut.

Dari sekian banyak klien yang datang pada saya, salah satunya adalah seorang Bapak yang telah berusia di atas lima puluh tahun. Saya mengenal beliau sebagai seorang yang sangat baik, pintar, cerdas, dan memiliki kemauan belajar yang sangat tinggi. Dengan bermacam keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya, dan di usia yang sudah tidak muda lagi, Bapak tersebut menceritakan perjalanan hidupnya.

Tahun demi tahun yang telah dilewatinya ternyata berjalan tidak sebagaimana yang diharapkan. Dengan segala macam potensi yang ada, setiap hal yang dilakukan selalu berakhir dengan “kegagalan”. Mulai dari profesi yang satu terus berpindah ke profesi lainnya, hingga di usianya ini belum ada satupun yang memberikan hasil yang baik. Segala macam cara dan daya upaya dilakukan, namun tetap saja tidak memberikan hal yang cukup berarti. Yang secara otomatis hal tersebut berdampak pula pada ekonomi rumah tangganya yang tidak pernah ada peningkatan dari tahun ke tahun selama perjalanan hidupnya.
Proses pembelajaran selalu dia lakukan. Tidak pernah berhenti untuk datang ke seminar, training maupun belajar banyak hal. “Apa yang salah dengan diri saya ya…” ujarnya pada saya. Yang kemudian karena tempat tinggal Bapak tersebut di luar kota dan pada saat itu saya tidak memiliki banyak kesempatan, akhirnya saya menjanjikan akan melakukan terapi dan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan dialami oleh Bapak tersebut.

Sekitar dua minggu kemudian saya bertemu kembali dan membantunya dengan proses terapi. Akhirnya sumber masalah yang sebenarnya terungkap. Pada masa kecilnya, Bapak tersebut adalah seorang anak yang sangat lemah dan mudah sakit. Dimana penyakit yang dideritanya terhitung cukup parah pada masa tersebut. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk antri dan berobat pada dokter ahli yang pada tahun-tahun itu memang masih sangat terbatas. Sehingga pada perkembangannya kedua orang tuanya menjadi sangat protektif terhadapnya. Apa-apa dilarang, apa-apa tidak boleh, dan selalu dilindungi.
Dari terapi tersebut kemudian saya mengetahui bahwa akar permasalahan awal penyebab semuanya ini adalah ucapan dari orang tuanya pada saat Bapak tersebut berusia tiga tahun yang mengatakan “Sudahlah kamu itu nggak usah macam-macam, kamu itu bisa apa sih dengan kondisi kesehatan kamu yang seperti ini?”. Secara notabene sebenarnya kedua orangtuanya mempunyai maksud baik pada dirinya saat itu. Dalam keadaan kesehatan yang sangat lemah, diharapkan anaknya lebih banyak beristirahat, tidak melakukan sesuatu yang mengeluarkan banyak tenaga, membuat capek dan justru memperparah kondisi kesehatannya. Namun rupanya ucapan tersebut masuk dan terekam dengan kuat di pikiran bawah sadar sang Bapak kecil ini.

Tahun demi tahun terus berlalu. Dengan pengobatan yang dilakukan secara teratur, pada akhirnya penyakit yang dideritanya dapat sembuh secara total. Kesehatannya pun sudah tidak ada masalah lagi. Bahkan ketika sudah mulai bekerja, Bapak tersebut menduduki posisi yang baik di suatu perusahaan besar pada masa itu. Namun dalam waktu yang tidak lama dan tanpa adanya suatu penyebab yang jelas, Bapak ini kemudian pindah ke perusahaan lainnya, tidak lama kemudian pindah lagi, pindah lagi dan pindah lagi. Terus menerus terjadi seperti itu.

Ketika mulai menjalankan usahanya sendiri juga seperti itu. Usaha demi usaha dicoba dan dilakukan dari satu bidang usaha ke bidang usaha yang lain. Padahal Bapak ini adalah orang yang jujur, tekun dan sangat menguasai apapun yang dilakukannya. Bisa dibayangkan bukan apa yang akhirnya terjadi? Tentu saja pada akhirnya Bapak ini mengalami stres yang luar biasa, mulai berkeluh kesah, menyalahkan sana sini dan semakin lama kondisinya semakin diperparah dengan munculnya perasaan gagal dalam hidupnya, hidup yang tidak berguna, melakukan penolakan terhadap diri sendiri, pikiran negatif terhadap semua hal, prasangka dan ketakutan akan tahun-tahun ke depannya nanti mengingat usianya yang sudah diatas lima puluh tahun.

Satu hal positif yang masih ada pada diri si Bapak ini pada saat bertemu saya adalah bahwa dia ingin dibantu, dia sadar dengan semua kondisi yang dialami dan dia mau untuk lepas dari semua ini. Intinya adalah dia membuka dirinya. Sehingga proses terapi yang saya lakukan pun berjalan dengan sangat lancar. Mengingat setiap proses terapi, klien-lah yang merupakan penentu utama bagi kesembuhan dan keberhasilan terapi yang dilakukan untuk dirinya sendiri.

Sekitar beberapa bulan kemudian pada satu kesempatan saya bertemu dengan Bapak tersebut, dia menceritakan bahwa kondisi pekerjaannya ternyata mengalami peningkatan yang sangat baik. Kalau sebelumnya penghasilan sehari-hari yang di peroleh sangat tidak menentu, hari ini ada klien, tiga hari lagi baru ada klien, seminggu kemudian baru ada klien lagi dan begitu seterusnya…. Sudah dua bulan ini tiap hari Bapak tersebut menerima dua hingga tiga klien setiap harinya. Bahkan beberapa kali pernah menerima lima hingga tujuh klien dalam sehari. Secara otomatis kondisi keuangan-nya pun berangsur membaik. Bukan hanya itu, rasa percaya diri Bapak ini mulai bertumbuh, bagaimana cara memberikan makna pada kehidupannya-pun berubah. Ledakan emosi dan hubungan dengan keluarganya-pun menjadi lebih baik. Dan saya tentu saja sangat senang dengan perubahan positif yang dialaminya dan semakin yakin bahwa perubahan awal ini akan terus meningkat pada waktu-waktu ke depannya nanti.

Satu hal yang dapat sama-sama kita ambil hikmahnya dari kasus ini adalah ucapan orang tua yang dilakukan untuk suatu tujuan baik sekalipun ternyata dapat berubah menjadi sebuah “kutukan” yang dapat menghancurkan masa depan anaknya. Bahkan hal tersebut tidak pernah disadarinya sama sekali.
Menjadi orang tua yang bijaksana memang adalah suatu proses yang terus-menerus tiada henti. Semoga pengalaman yang dialami Bapak tersebut diatas memberikan satu pencerahan tersendiri bagi kita sesama orang tua.

Leave a reply