Selingkuh Memang (Tidak) Nikmat

Bila membaca judul ini, mungkin saja, dan saya yakin pasti ada yang tidak sependapat dengan saya… Anda paham kan dengan apa yang saya maksud ha, ha, ha. Kalau membahas secara mendetil asal mula selingkuh dan segala hal tentang perselingkuhan, saya yakin bab ini bisa menjadi tulisan yang sangat panjang dan bisa-bisa malah menjadi satu buku dengan judul di atas. Namun pada kesempatan ini saya hanya ingin berbagi cerita dari “para korban” perselingkuhan yang pernah saya tangani kasus mereka pada sesi konseling dan terapi.

Dari sekian banyak kasus, rata-rata apa yang disampaikan hampir mirip antara satu dengan yang lainnya. Serius! Mulai dari pengantin muda dalam usia pernikahan dibawah lima tahun hingga yang sudah menikah lebih dari dua puluh tahun. Malah sempat saya berpikir kalau untuk kasus-kasus seperti ini saya mendingan tidak usah lagi mendengarkan ceritanya, tapi langsung saja begitu klien mengatakan kasusnya adalah perselingkuhan, langsung saja saya terapi. Namun ya bagaimana-pun pasti rasanya kurang afdol dan mantap ya dari sisi klien kalo tiba-tiba di terapi tanpa adanya sesi curhat ha, ha, ha…
Kalau dari sesi dan hasil terapi saya rasa tidak akan saya bahas secara mendetil disini. Karena banyak sekali dari yang rata-rata bersikeras ingin pisah atau bercerai dengan pasangannya pada awal sesi terapi, karena mengetahui bahwa pasangannya selingkuh, pada akhirnya mengatakan bahwa mereka sudah dapat memaafkan dan menerima kembali pasangannya itu. Bahkan hubungan dalam keluarga-pun menjadi harmonis kembali.

Dalam kasus-kasus yang saya tangani, beberapa dari mereka yang melakukan perselingkuhan bahkan ada sudah memiliki anak di luar nikah dengan orang lain. Bisa dibayangkan apa yang kemudian dirasakan dan terjadi pada pasangannya setelah mengetahui hal tersebut??????

Ada yang ingin bunuh diri, ada yang dalam perawatan psikiater dan diharuskan mengkonsumsi obat penenang dalam jangka waktu yang sangat panjang. Bahkan salah satu klien saya harus mengalami ketergantungan pada obat tersebut sudah lebih dari sepuluh tahun. Lainnya lagi ada yang sampai masuk rumah sakit jiwa, tidak bisa tidur dalam jangka waktu tahunan, belum lagi ledakan-ledakan emosi yang mengikutinya seperti dendam, jengkel, marah, perasaan tidak dicintai, tidak diterima, tidak diakui, tidak dihargai, ingin membunuh pasangannya, dan lain sebagainya serentetan panjang yang dirasakan dan dialami oleh klien-klien saya ini.

Wow….!!!!!!
Ternyata masih tidak berhenti sampai disitu. Pada akhirnya anak-pun menjadi korban. Sepandai-pandai orang tuanya menutupi hal tersebut, ternyata anak-anak merekapun mencium “masalah” yang ada. Bahkan dari pengakuan beberapa klien saya, anaknya bahkan sudah mengetahui bahwa ternyata papa/mamanya selingkuh dengan orang lain. Ada juga yang pada saat si anak berjalan-jalan di salah satu pusat pertokoan, dia melihat papanya menggandeng tangan dengan sangat mesra seorang wanita lain.

Akibatnya sudah dengan sangat jelas dan gampang dapat ditebak. Kemudian si anak mulai bermasalah di sekolah dan di rumah, tidak bisa dinasehati, membuat ulah yang macam-macam dan ujung-ujungnya nilai dan prestasi pelajaran di sekolah pun menurun drastis, hancur-hancuran. Yang diakhirnya orang tuanya pun dipanggil menghadap kepala sekolahnya dan anak diultimatum akan dikeluarkan dari sekolah bila tidak ada perbaikan. Cerita-cerita serupa juga saya dengar pada sesi sharing saat memberikan training dan motivasi pada para pengajar atau guru di beberapa sekolah terkemuka yang pernah mengundang saya.
Jadi bisa dibayangkan bukan hal-hal seperti inilah yang pada akhirnya bukan hanya menghancurkan diri sendiri, namun juga pasangannya dan bahkan anak juga menjadi korbannya.

Kesamaan yang menjadi penyebab dari semua kasus perselingkuhan tersebut antara lain :
• Tidak adanya komunikasi yang baik antara suami dan istri.
• Ego yang tinggi dari masing-masing pihak baik suami ataupun istri.
• Waktu kebersamaan yang dimiliki sudah sangat terbatas namun sangat tidak berkualitas.
• Semua pihak tidak ada yang bersedia menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu.
• Tidak adanya keseimbangan hidup dan hanya berfokus pada karir atau pekerjaan.
• Adanya perasaan tidak dicintai, tidak diterima, tidak diakui dan tidak adanya otonomi.
• Ketika dirumah yang muncul adalah suasana “house” bukan “home”, jadi tidak ada kehangatan dalam rumah tangga, kasih sayang, dukungan dan kenyamanan ketika berada di rumah.
• Ikut campurnya pihak ketiga dalam urusan rumah tangga seperti orang tua atau mertua yang terlalu dalam.
• Melibatkan pandangan-pandangan dari orang-orang yang “tidak berkompeten” walaupun itu adalah teman dekat atau sahabat sekalipun, namun pandangan-pandangan mereka justru meracuni dan tidak membuat kita menyelesaikan masalah rumah tangga dengan baik.
• Perasaan hambar dan dingin yang berkelanjutan di antara pasangan.
• Kehidupan sexualitas yang sangat buruk dalam jangka waktu yang panjang.
Jadi ketika ada hal-hal tersebut diatas yang sedang anda alami saat ini, jadikanlah itu sebagai rambu-rambu darurat yang harus segera dikomunikasikan, dibereskan dan diselesaikan dengan baik bersama dengan pasangan anda.

Ingatlah pada tujuan dan komitmen awal pada saat anda membina kehidupan berumah tangga bersama pasangan anda. Sehingga pernikahan anda bukan hanya sebagai simbol status dan ikatan secara hukum saja bukan? Terlebih lagi dengan “profesi” anda sebagai orang tua yang sudah merupakan tugas dan tanggung jawab anda untuk menjadi figur yang memberikan segala contoh dan suri tauladan yang terbaik bagi anak-anak anda, generasi penerus keluarga bahkan bangsa ini.

Jadi selamat bagi anda untuk menjalankan peran sebagai pasangan dan orang tua yang terbaik dalam keluarga anda!

Leave a reply